tidaktidakterbatas:

Tidak Tidak Terbatas #1

adalah jurnal puisi triwulanan Rally The Troops. dimulai pada bulan Januari 2014. Tertarik untuk mempublikasikan tulisan dalam bentuk visual poetry/conceptual writing/experimental writing. Namun tidak menutup kemungkinan untuk memasukkan tulisan di luar kategori di atas.

Is a trimonthly  poetry journal by Rally The Troops. Started on January, 2014. Focusing on publishing a writing around Visual Poetry/ Conceptual Writing/ Experimental writing. But not rule out the possibility to publish outside of the above categories.

Contributors this edition:

Dimas Fadhli, Resqioso, and Almer Mikhail

Book Details:

15 pages, 14.8 cm x 21 cm, Recycle Paper, Laser Print, Colour and Black and White.

Price: 
Rp. 15.000,-/US$ 3 (Excl. Shipping)

for order SMS +62 812 1400 1575

Rilisan Musik Lokal Favorit Di 2013

Saya tau harapan terbesar kalian semua di tahun 2014 nanti adalah tidak ada lagi acara sahur yang kini menjelma menjadi template untuk tiap acara harian di tiap stasiun televisi. Sebegitu bosan kah kalian dengan hal itu? Sebegitu bosan kah kalian dengan 2013? Tahan, masih ada yang harus diperhatikan dari 2013, mereka adalah:

Original Soundtrack & Music Inspired by Rocket Rain

Ketika karya Anggun Priambodo di tek-tok dengan nama - nama macam Harlan Boer, David Tarigan, Frigi Frigi, Jirapah, The Kuda, Sajama Cut. Mengutip liner notes oleh Harlan Boer, “Demikianlah rilisan ini tercipta. Semoga menjadi Compact Disc yang berkenan di hati Anda.”

Label: Sekuntum Records

Nomor Penting: Crown, Hey Jansen, Partikel Kita Sama.

Ayushita - Morning Sugar

Kita semua tentu tidak akan lupa ketika gadis yang dulu tatanan rambutnya lebih menyerupai Batman ketimbang Astro Boy ini melafalkan “Let’s dance together, get on the dance floor” bersama Raffi Ahmad dan kawan - kawan. Namun, di album ini ia tampil lebih feminim, menjadi popcorn yang manis. Dari segi musikalitas, nama - nama seperti Ramondo Gascaro, Anda Perdana, Ricky Virgana, Saleh Husein, dan John Navid menjadi pengaruh besar dalam album ini.

Label: Ivy League Music

Nomor Penting: Sehabis Hujan, Morning Sugar, Fufu Fafa.

Muchos Libre - Viva La Libre EPPertama melihat mereka adalah ketika mereka menjadi pembuka acara untuk salah satu band paling berbahaya asal Bandung. 2 Vokalis tambun tanpa busana berlagak macam pegulat. Berteriak - teriak, lulumpatan kesana kemari seakan sedang menjalankan treatment pembakaran lemak di seluruh tubuh mereka. Pikir saya, bajingan yang seperti ini harus merilis sesuatu, setidaknya harus ada yang saya miliki dari mereka.

EP mereka rilis bertepatan dengan Record Store Day lalu, di-bundling dengan isian Teka Teki silang, dibungkus dalam kemasan plastik macam keripik oleh - oleh dari teman atau sanak saudara. Pada saat perilisan, EP mereka bisa didapatkan dengan menukarkan sembako atau mie instan juga boleh. 1 dari 5 lagu dalam EP ini dinyanyikan menggunakan bahasa Jepang dengan lidah Sunda.

Label: Supercuts Records

Nomor Penting: Romusha, Don’t Mess With The Zombie, Viva La Libre

Whistler Post - Self Titled

Satu dari banyaknya kelompok musik yang dipunggawai oleh Andi “Hans” Sabarudin, dan saya mendeskripsikan Whistler Post sebagai teman kala sedang berada di dalam bus Transjakarta untuk mengitari kota. Sensasi melihat dari jendela.

Label: Don’t Fade Away Records

Nomor Penting: When The Night Comes, Closer, Sebastian Says

Answer Sheet - Chapter I; Istas Promenade

Hills Of Rabbit Face saya putar berulangkali setelah jam 6 pagi, untuk mendapatkan mood bagus untuk mengawali hari. Lagu ini selalu membuat hati jadi riang, atau paling tidak berhasil mengembalikannya ke keadaan normal, seperti semula.

Tak ada yang menarik dari Istas, dari dirinya, cerita hidupnya, ukulelenya, maupun Higloo tempatnya tinggal. Tak ada yang menarik dari Istas, sampai kalian sadari kalau Istas itu nyata.

Label: Paperplane Recording

Nomor Penting: Hills Of Rabbit Face, Riverside, A Love Beach, Sadranan.

Sarita Fraya - Imperfectly Perfect

Jatuh cinta pada pendengaran pertama adalah saat saya mendengarkan singelnya yang berjudul “Twenty Two” dilepas gratis oleh Yes No Wave.

Memulai proses musikalnya dari satu ruangan ke ruangan lain, dari kamar mandi ke depan meja rias, dari teras kost, lalu ke post satpam. Begitulah pengakuan Sarita Fraya, tentang bagaimana ia mengolah rasa serta sekelumit kehidupannya menjadi sebuah komposisi lagu yang melankolis dan terdengar begitu wanita.

Sebagai nilai plus, album ini dikemas dengan cara yang unik, dibungkus dengan artwork yang dicetak diatas kertas kalkir.

Label: Sisters Records

Nomor Penting: Always Back To You, Twenty Two, Will You Coming Home

Banda Neira - Berjalan Lebih Jauh

Satu kali melihat penampilan mereka secara live, dibuat merinding bulu kuduk ini ketika petikan gitar bersahut dengan vokal yang puitis. Khas dengan lirik yang puitis dan nuansa yang sendu, Banda Neira dengan mudah membangun pengalaman emosional tersendiri bagi pendengarnya.

Label: Sorge Records

Nomor Penting: Rindu, Mawar, Hujan di Mimpi

Sex Sux - Sing Along With Bananas!

Mentah, direkam di rumah dengan fidelitas rendah membuat materi dalam album ini terdengar begitu raw namun dibalut gula dengan porsi yang pas. Tidak terlalu lembek, tidak juga terlalu keras. Seperti gulali.

Label: HeyHo! Records

Nomor Penting: Zombies, Jellyfish, Two Toast

Roman Catholic Skulls - Weathered (reissue)

Album ini adalah bagaimana cara Marcel Thee dan Danif Pradana merekontruksi kedudukan musik dewasaini. Dirilis secara resmi pada Cassette Store Day  oleh Elevation records dalam format kaset, album ini menjadi album konseptual yang utuh, datang dengan pola mengganggu, menenggelamkan, dan kemudian menyerang di tiap lapisan suaranya. Musik yang tak bisa dinikmati sebagai teman naik bus, minum teh, atau lari pagi.

Label: Elevation Records

Nomor Penting: Seluruhnya

Split Tape The Kuda x The Nightstalkers

Sesungguhnya album ini adalah penebusan dosa saya karena gagal mendapatkan Mystery Torpedo EP milik The Kuda yang terbatas itu.

Punk dengan nomor cepat, dikondisikan dengan lapangan badminton yang biasa dipakai untuk  senam skala RT, serta diselingi potongan dialog malam pertama. The Kuda dari Bogor dan The Nightstalkers dari Perancis, keduanya kejam dan berbahaya.

Label: Ruang Kecil

Nomor Penting: SOS, Tumbilla Attack, Sexual Deviation

Tigapagi - Roekmana’s Repertoire

Tak ada gunanya menjelaskan album ini panjang lebar, cari waktu yang tepat, dengarkan, dan ia akan menjelaskannya sendiri kepadamu.

Label: Helat Tubruk

Nomor Penting: Seluruhnya

Teenage Death Star - The Backyard Tapes, Early Years 88 - 91

Ini memang bukan album dengan musikalitas diatas rata - rata, bukan juga album dengan konsep yang terencana secara apik, bahkan jika boleh dibilang album ini adalah sebuah ‘kecelakaan’. Terimalah dengan senang hati, album ini adalah jejak dari spontanitas masa muda yang jujur dan tak berakhlak baik. Embrio dari segala kemungkinan di tahun - tahun mendatang.

Label: FFWD Records

Nomor Penting: Rules Of The Universe, If You Tolerate This, Your Football Association Will Be Next, I.A.M.S (International Aftermidnight Misreading Society)

Barefood - Sullen EP

Beruntung di penghujung tahun 2013 muncul album semacam ini. Album yang siap menendang pantat yang hanya diam ketika berada dalam sebuah gigs.

Label: Anoa Records

Nomor Penting: Perfect Colours, Teenage Daydream, Droning

(Catatan: Pada foto tidak terlihat album Berjalan Lebih Jauh milik Banda Neira. Memang, karena pada saat foto CD nya masih dipinjam oleh kerabat saya dan belum sempat dikembalikan sampai saat ini, menyedihkan)

Untuk memulai hari-hari barumu, pilihlah air minum kemasan yang Don’t Look Back In Anger.

The Beginning of a (J)(o)urne(y)

Kembali ke awal mula sebelum projek ini terbentuk. Kembali ke bagaimana rasanya mendapat kiriman mixtape dari orang yang belum saya kenal.

Dia datang saat Ramadhan, di akhir bulan Juli. Sebuah amplop coklat, amplop coklat yang kemudian diletakkan orang tua saya di meja komputer. Saya sedang berada di luar rumah saat amplop itu tiba.

 

"Mas, tuh dapet kiriman", singkat Ibu saya. Tak mau membuang waktu dengan membalas bertanya "Kiriman dari siapa?", saya yang baru datang lantas membuka kaos kaki lalu masuk menuju meja komputer. Belum dibuka, amplopnya masih tersegel plastik dengan cetakan logo jasa pengiriman kilat diatasnya.

Amplop itu berisi sebuah mixtape, dari Raras Prawitaningrum. Jadi, waktu itu Raras ini sedang bagi-bagi mixtape lewat akun twitternya. Selain saya, ada Fanni yang juga beruntung mendapatkan mixtape.

Saya mendapat mixtape dengan sampul bertuliskan ‘Folk Party’. Saya bolak balik sampulnya, saya baca satu-persatu susunan lagunya. Alhasil, saya dapati 15 lagu yang dibawakan oleh sekumpulan kolektif beraliran folk.

Rasa penasaran atas beberapa nama asing di playlist mixtapenya secara tidak langsung menuntun saya untuk segera memutar mixtape tersebut. Setelah saya putar, dengan segera rasa penasaran tadi pun melebur menjadi satu kesenangan mutlak, kesenangan - kesenangan yang secara beruntun menghampiri saya yang masih termangu di depan pemutar CD.

 

Di era digital seperti sekarang, ‘berbagi’ musik menjadi lebih mudah. Mulai dari hastag #nowplaying di sosial media, distribusi dari tangan ke tangan lewat koneksi nirkabel, sampai copy - paste folder di komputer teman. Mixtape menawarkan hal lain yang tidak bisa didapat dari semua interaksi yang telah disebutkan diatas. Mixtape menawarkanmu sekotak rasa, teman, pesan, sebuah perjalanan yang dipenuhi kejutan.

Dengan demikian, mixtape bisa saja menjadi segenggam lollipop, sekantung cupcakes, setangkup burger, seekor paus, pesawat ulang alik, kartu kredit, rangkuman dari satu bab kehidupan, mesin teleport, bocah kecil penyendiri, warna - warna pemikat retina, musim panas di Seoul,  wajah senja yang muram, deretan gedung di malam hari, sintesa dari nirmana, dongeng fantasi penghantar tidur, kado manis dengan pita diatasnya, raut - raut psikedelis, atau langkah risau di malam hari. Mixtape bisa menjadi apa saja, menjadi hal - hal lain yang tersusun dari imaji tiap pembuatnya.

 

Singkat cerita, saya hubungi Raras untuk memperbincangkan tentang gagasan membuat projek bertukar mixtape. Dia setuju.

 

Setelah Raras setuju, selanjutnya saya hubungi Fanni (orang beruntung lainnya yang juga mendapat mixtape). Saya pun mengajak Fanni untuk berada di dalam proyek ini. Fanni adalah satu - satunya orang yang tinggal di luar Jakarta diantara saya dan Raras. Setelah saya ceritakan tentang proyek bertukar mixtape, Fanni dengan senang hati menerima tawaran menjadi volunteer pertama untuk proyek ini.

Untuk saya pribadi, senang rasanya sudah ada orang yang mau menjadi volunteer, padahal nama proyek nya saja belum jelas.

 

Kami akhirnya mulai mencari-cari nama yang cocok untuk projek ini. Kami sempat ingin memakai nama ‘A Journey Without Traveling’. Ya, kami memang sengaja mencari nama yang ada hubungannya dengan travel (perjalanan). Pasalnya, mendengarkan mixtape itu adalah suatu perjalanan menjajaki rasa.

Tapi, dianggap terlalu panjang dan ribet ‘A Journey Without Traveling’ akhirnya di simpan sementara.

Sampai suatu malam, entah bagaimana akhirnya kami menemukan nama yang mewakili konsep dari proyek ini, yaitu ‘Travel Thru Mixtape’.

 

Akhirnya lahirlah Travel Thru Mixtape pada sebelumnya saya tidak tahu pasti kapan TTM lahir, tapi setelah saya membuka - buka Twitter Archive maka saya putuskan ia lahir tanggal   30 Agustus 2012.

Secara tidak sengaja, beberapa saat setelah nama itu dipilih saya baru sadar kalau akronim dari Travel Thru Mixtape adalah TTM bisa saja kamu kaitkan dengan lagu dari duo Ratu. Sialnya, fakta itu pula yang secara tidak langsung mempromosikan nama ‘Travel Thru Mixtape’.

 

Perlahan, proyek ini mulai berjalan. Kami mulai mencari volunteer untuk tiap-tiap kota. Ternyata banyak yang tertarik, setelah Fanni untuk Bandung, tersebutlah nama berikutnya, Rezky Aditya untuk Cirebon, Janitra Ayu untuk Surabaya, Dhani Irawan untuk Semarang, Irine Wardhani untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, Keanu Aji untuk Solo, dan Dicky Alamsyah untuk Bekasi.

Campur aduk rasanya melihat kesenangan ini mulai menyebar.

 

Proses pun berlanjut, dari pengumpulan mixtape ke tiap volunteer di masing - masing kota, berlanjut ke pengiriman mixtape yang terkumpul oleh volunteer ke Jakarta, sampai akhirnya mixtape yang sudah diacak dikirim kembali ke peserta untuk mereka dengarkan.

 

Sebelumnya mohon maaf kepada semua peserta atas keterlambatan pengiriman, atau hal - hal lain yang tidak diinginkan terjadi pada mixtape yang didapat.

 

 

Hari ini, setahun sudah nama ‘Travel Thru Mixtape’ bertengger di laman Tumblr, setahun sudah cerita - cerita diposting disana. Setahun sudah proyek kesenangan ini menyebar.

Setahun terakhir yang dipenuhi banyak perubahan dalam hidup saya.

Di luar semua itu, hal yang paling menyenangkan adalah melihat interaksi yang terjadi antar peserta setelah Travel Thru Mixtape. Mereka yg belum kenal, jadi kenal satu sama lain. Mereka tak lagi hanya membahas tentang mixtape yang mereka dapat, tetapi mereka juga membicarakan hal - hal di luar itu semua.

 

Terima kasih untuk teman - teman peserta, volunteer, dan semua pihak yang telah membantu menyebarkan kesenangan Travel Thru Mixtape ini. Saya sendiri belum tahu apakah kesenangan ini akan berlanjut atau tidak.

 

"…some forever not for better, some have gone and some remain…"

 

[Pause]

 

resqioso

Jika mentari di ufuk timur adalah panas, maka kamu adalah serpihan awan yang berlariankemudian saling merekat untuk mendamaikanku dalam butiran - butiran resahmu.
— Rima di surat elektronik

Blur: In My Blurry Vision

Take Me Out Of Time

 

Saya mengenal Blur lewat single 'Coffee & TV', semasa SMP video clipnya sering diputar di stasiun TV. Setelah 'Basket Case' oleh Green Day, 'Coffee & TV' adalah lagu kedua yang mengingatkan saya pada masa - masa SMP. Pemuda berkacamata yang kabur dari rumah, dan kotak susu yang bisa bicara, berjalan, dan mengintip dari pinggiran jendela, sebatas itu saya mengenal Blur.

Semakin kesini saya cari tahu siapa - siapa di balik Blur. Mereka adalah Damon Albarn, Graham Leslie Coxon, Steven Alexander James dan David Alexander De Horne Rowntree. Komplotan remaja Colchester yang tersenyum lebar ketika penjualan single 'Country House' berada di atas 'Roll With It' milik Oasis (1994). ‘Kelicikan’ Food Record lah yang menyulut api Battle Of Britpop waktu itu.

Setelah '13' album kedua milik Blur yang saya dengarkan adalah 'Blur' (1997). Beruntunglah saya lebih dulu mengenal 'Blur' sebelum 'Think Thank'. Karena di album yang dirilis tahun 1997 itu Blur masih punya tuas rem bernama Graham, yang berperan penting untuk menahan eksperimen - eksperimen gila dari Damon. Beda cerita kalau saya mengenal Blur dari 'Think Thank', seorang teman menganggap 'Think Thank' itu rubbish, dan sejak saat itu pula dia memilih untuk tidak mau mengenal Blur lebih jauh lagi. Berbeda dengan 'Think Thank', album yang dirilis pada tahun 1997 itu komposisinya selalu seimbang, teriakan energik Damon pada 'Song 2', diimbangi lirih suara Graham di nomor 'You're So Great', spoken words Damon di 'Essex Dogs' pun terdengar masih normal karena eksplorasi Graham dengan gitarnya. Persis seperti Graham kembali untuk 'Under The Westway'. Dalam versi yang berbeda, 'Under The Westway' tak terdengar sebegitu melankolisnya. Melodi gitar Graham lah yang akhirnya membawanya ke arah melankolia ‘langit biru’ Damon itu.

 

 

Momentum ‘Sunday Sunday’

 

Saya ingat kapan saya pergi ke gigs dan mendapati kacamata saya pecah di dalamnya. 'Sunday Sunday', gigs pertama yang membuat kacamata saya pecah, secara harafiah. Seingat saya kejadian itu terjadi diantara 'Parklife' atau ‘Popscene’ waktu itu. Mereka gila, crowd surfing, berpegangan pundak, berdendang ria, dan koor massal untuk semua lagu. Adalah Blur, sebuah nama yang menyatukan kegilaan mereka. Dengan satu lensa kacamata yang tersisa, saya memilih untuk menyimpan kacamata ke dalam tas, untuk suatu kenangan bernama 'Sunday Sunday'. Tanpa kacamata, saya pun tak lagi peduli siapa - siapa yang tampil waktu itu. Tetapi, saya bisa rasakan hangat malam itu, kesenangan mereka, peluh yang menguap, kesenangan yang meluap, dan suara - suara parau di ujung gelas bir dingin. Bahkan setelah gigs hampir berakhir, mereka membuat hastag #IndonesiaLovesBlur dengan harapan Blur bisa datang ke Indonesia. Seperti doa yang khusyuk, sorak sorai meredup sesaat, tiap orang pun mulai menerbangkan #IndonesiaLovesBlur lewat Twitter.

 

8 bulan sebelum kedatangan Blur ke Jakarta untuk Big Sound Festival, saya menghadiri 'Sunday Sunday', sebuah malam persembahan untuk Blur. Saya harus berterima kasih kepada 'Sunday Sunday', Blur Indonesia, dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Momentum penting setelah 'Sunday Sunday' adalah ketika saya kembali percaya bahwa akan ada konser untuk kami setelah Hyde Park (2009), hingga akhirnya saya pun mengambil ancang - ancang untuk mulai mengumpulkan uang.

 

 

Yes It Really, Really, Really Happened!

 

Jakarta, 15 May 2013 Lapangan D Senayan. Saya cuma bisa tersenyum saat melihat beberapa pemuda yang secara tidak sengaja memakai kaos yang sama bertuliskan ‘CHERYL’, baiklah ”..we all say don’t want to be alone we wear the same clothes because we feel the same..”. Saya juga tersenyum ketika seorang wanita asing memakai kostum harimau. Saya pun tersenyum ketika stiker, kaos, poster Blur berjejer di sepinggiran trotoar menuju pintu masuk Big Sound Festival. Ya ini benar - benar terjadi. Blur, mereka yang telah mengubah hidup banyak orang, dan sebentar lagi mereka akan meninggalkan sebuah memori di Indonesia. Saya hampir tak menghiraukan pengisi acara lainnya. Untungnya ada Morfem dan BRNDLS.

 

Sekitar pukul sembilan malam, dengan langit terang bulan ditambah nyala LCD dari beragam gadget di lapangan, panggung utama ditutup dengan manis oleh The Temper Trap.

Menit - menit selanjutnya, doa - doa terkabul. Benar saja, usaha keras itu tak akan mengkhianati. Beberapa saat setelah beberapa orang asing selesai mempersiapkan peralatan, kurang lebih dari jarak 40 meter saya melihat Damon, Graham, Dave, dan Alex berjalan memasuki panggung. Ini seperti Youtube dengan efek 4D. Dengan jaket jeans dan kaos polos, gaya tengil Damon masih melekat di usianya yg sudah kepala empat, Graham terlihat dingin dengan topi dan kacamatanya, Alex semakin fashionable dengan kemeja putih yang melekat di badannya, Dave terlihat seperti fraksi partai buruh yang sedang dalam plesir panjang sehabis kegagalannya dalam eleksi 6 May 2010   dengan baju kerah lengan pendek yang ia kenakan.

"An*jiiiiiiing.." Kata pertama yang terlontar dari mulut saya setelah melihat Damon menyiramkan air mineral kearah front row. Semacam pemberkatan.

 

Setelah disambut dengan 'Theme From Retro', funky bassline Alex pun terdengar! 'Girls and Boys'! Nomor yang pas untuk melebur haru. Lapangan D seperti belantara nostalgia, di sekitar saya terlihat pria - wanita paruh baya yang masih rapi dengan stelan kantor  ikut joget - joget kecil. Lompatan - lompatan pun terlihat dari berbagai sudut. 'Girls and Boys' kemudian disusul dengan 'Popscene', dan 'There's' No Other Way'.

 

”..he’s got morning glory, and lifes a different story.. everything's going jackanorry..”. Teriakan "La..La..La..La….. La..La..La..La..La..La…La….." Pada 'Country House' seperti perayaan akan kemenangan oleh Oasis di tahun 2013 ini. Di 2013 ini terhitung sudah 3 kali Blur membawakan 'Country House' secara live, di Mexico, Hongkong, dan Jakarta.

Pada encore, keinginan muluk bahwa 'You're So Great' akan dimainkan pun terobati akibat 'Under The Westway'. Namun dalam hati masih berharap pada 'You're So Great', mereka malah melanjutkannya dengan 'For Tomorrow'. Setelah 'For Tomorrow' selesai, terdengar suara biola menggaung di lapangan. Vokal bariton Damon lantas mengawali 'The Universal', baiklah saya akan berhenti berharap disini, malam ini sudah sedemikian indah, malam ini adalah doa yang terkabulkan bagi banyak orang. Menyenangkan bagaimana saya bisa berada disana, melihat cahaya lampu menyinari tangan yang melambai dari orang - orang yang beresiko lebih dulu terkena diabetes sebelum saya. ..how we like to sing a long… although the words are wrong… it really, really, really could happen.. Yes, it really, really, really could happen..

Semua terjadi malam itu. Mengesampingkan harapan untuk 'You're So Great' saya sungguh rela jika pertunjukan malam itu harus berakhir di 'The Universal'.

Sementara itu menit - menit pada 'Song 2' sudah seyogyanya menjadi penghantar kaki yang gontai untuk tetap berjalan tegap keluar dari Senayan.

 

 

Saya yakin mereka menyimpan 'You're So Great' untuk saya, untuk suatu hari. Bukan untuk malam itu, mereka lebih tahu kapan momen yang pas untuk saya mendengarkan lagu itu secara live. Suatu saat mereka akan kembali lagi kesini.

 

Teks: Resqi Utomo

Foto: jovy Aidil Akbar